• Berita Terbaru Teknologi

Presiden AS menerbitkan perintah eksekutif keimigrasian. Perintah eksekutif itu mengatur larangan masuk ke Amerika Serikat untuk warga negara tujuh negara sebagian besar muslim, yaitu Suriah, Iran, Irak, Yaman, Sudan, Somalia, serta Libia, sepanjang 90 hari ke depan dan penundaan penerimaan pengungsi sepanjang 120 hari.

Beberapa pendatang yang sesuai sama persyaratan itu serta dalam perjalanan menuju AS pada Jumat minggu lantas waktu Trump di tandatangani dokumen itu ditahan serta dihentikan setiba mereka di bandara AS.

5 Warna Cat yang bakal Bikin Tempat tinggal Kamu Cepat Laris Demikian halnya, pengunjung yang sudah mempunyai visa resmi serta ticket menuju AS dihindari untuk terbang, sebagian bahkan juga terjerat diluar negeri waktu transit perjalanan.

Kenapa Trump memerankan kebijakan itu?

Kebijakan Trump itu adalah sisi dari politik populisme.

Populisme adalah politik perlawanan pada kemapanan pada beberapa gosip globalisasi, perdagangan bebas, serta imigrasi.

Kebijakan globalisasi, perdagangan bebas, dan imigrasi itu sebenarnya adalah konsensus elite politik terlebih dulu, namun terakhir tak memuaskan umum.

Dengan cara ekonomi, warga Amerika kehilangan peluang kerja yang diserobot golongan imigran.

Dengan cara politik, ketujuh negara muslim itu distigma suka menghasilkan terorisme serta acap jadikan Amerika sebagai tujuan.

Ketidakpuasan tersebut yang di tangkap Trump serta jadi jualan politiknya hingga ia memenangi penentuan presiden AS. Trump benar-benar melakukan janji politik yang ia lontarkan dalam kampanye.

Hingga disini kebijakan keimigrasian Trump mungkin saja dapat dimaklumi.

Tetapi, kita tak akan berhenti pada penyebabnya, namun juga akibat.

Kebijakan Trump itu terang membuyarkan rumus Amerika sebagai tanah kebebasan serta harapan.

Trump lupa kalau Amerika di bangun golongan imigran. Trump seperti menanggung derita amnesia kalau nenek moyangnya imigran asal Jerman.

Perusahaan raksasa sejenis Apple, Google, serta Netflix dioperasikan banyak profesional serta pekerja imigran.

Pendiri Apple, Steve Jobs, adalah anak seseorang imigran asal Suriah.

Tersebut penyebabnya ketiga perusahaan itu mempermasalahkan kebijakan Trump.

Kebijakan Trump terang menggeneralisasi serta menstigma seakan semua warga negara ketujuh negara itu adalah teroris.

Ia satu kebijakan yang penuh kebencian.

Kita cemas kebijakan itu mendatangkan kebencian pada golongan muslim yang bermukim di Amerika.

Kita juga cemas kebijakan itu malah memantik radikalisme global yang tidak cuma meneror Amerika, namun juga dunia.

Bagaimana baiknya kita merespons kebijakan Trump?

Telah pas kebijakan pemerintah Indonesia yang lewat Kementerian Luar Negeri mengimbau warga negara Indonesia di AS untuk menaati hukum, mengerti hak-hak mereka, dan menyimak sekitar lingkungan.

Walau demikian, kita butuh lakukan kian lebih sebatas imbauan.

Sebagai negara yang menggerakkan politik luar negeri bebas aktif, kita harus mempermasalahkan kebijakan Trump.

Hari ini tujuh negara terserang kebijakan keimigrasian Trump.

Bukanlah mustahil besok atau lusa Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim paling besar didunia memperoleh perlakuan diskriminatif sama.

Paralel dengan itu, kebijakan keimigrasian Trump mengingatkan kita untuk melindungi serta bangun tempat tinggal kita sendiri.

Dengan cara ekonomi, kita harus bangun kemandirian untuk kesejahteraan rakyat serta keadilan sosial.

Dengan cara politik, kita harus menghadirkan sosok Islam ramah, bukanlah Islam geram.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *